ARI WIBOWO SHINODA

Guru

Saya seorang pembelajar sepanjang hayat.

Kunjungi Profil

Memanusiakan Hubungan Guru, Murid dan Orang tua melalui Teknologi

Awal

Tak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa profesi sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang begitu menyenangkan dan menantang. Institusi pendidikan tempat dimana saya bernaung jika saya boleh memberikan dua jempol, kenapa? Karena selama 10 tahun saya mengajar di Sekolah ini saya sangat merasakan perubahan perubahan signifikan terhadap diri saya sebagai seorang pendidik. Oh iya, di kalimat kedua saya katakan profesi saya sebagai guru sangat menyenangkan sekaligus menantang. Kenapa demikian? Saya sadar bahwa saya hidup di abad 21 dan berhadapan dengan situasi pendidikan yang juga berevolusi dan beradaptasi dengan teknologi pendidikan yang pastinya saya dan murid-murid saya temui setiap hari. Saya sadar bahwa saya ini dikategorikan sebagai Digital immigrant sebutan untuk orang-orang yang lahir dibawah tahun 2000-an yang masa hidupnya berlangsung sebelum berkembangnya teknologi komputer seperti sekarang dan murid-murid yang saya ajar konon disebut Digital natives atau mereka sejak lahir sudah akrab dengan teknologi canggih seperti komputer, Ipad, animasi dan sebagainya. Lalu bagaimana saya menempatkan diri sebagai pengajar zaman now yang harus dan mau tidak mau meningkatkan kemampuan tidak hanya dalam menerapkan strategi belajar mengajar namun bagaimana menerapkan dan menggunakan teknologi pendidikan di kelas serta mengkomunikasikannya kepada orang tua.

Tantangan
Apa reaksi anda jika anda bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan dengan gelar ahli teknologi / ICT dan anda diminta untuk mengajar atau membawakan materi ajar dengan menempatkan penggunaan teknologi di ruang kelas anda? Atau sebaliknya. Tantangan inilah yang 3 tahun terakhir sampai sekarang terus saya alami di sekolah. Sejak awal, Sekolah sangat terbuka untuk memasukan teknologi dalam basis kurikulumnya. Terasa sekali waktu itu ketika tahun 2010 administrasi sekolah dan pelaporan hasil belajar siswa/i setelah kita buat dengan program Ms, Excel kita laporkan ke kepala sekolah untuk mendapat persetujuan lalu kita cetak (itu jika laporannya 100% benar maka bisa langsung cetak). Saya dan guru-guru lainnya kemudian terbantu dengan sistem akademik sekolah berbasis online yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menguasai program tersebut. Yang mau saya sampaikan adalah ketika label Digital immigrant tadi melekat di diri saya, itu membuat saya termotivasi untuk belajar, Iya, belajar mengenai teknologi yang khususnya akan bersentuhan di lingkungan sekolah dan tentunya murid-murid. Namun, pertanyaanya apakah proses pendidikan terjadi begitu saja di depan layar komputer atau ipad? Apakah murid-murid akan mendapatkan pengalaman yang sama seperti di ruang kelas ketika mereka sedang mengakses Gawai mereka? Lalu bagaimana dengan orang tua yang notabene memberikan pengaruh besar kepada murid ketika mengakses teknologi dirumah? Hubungan-hubungan inilah yang juga menjadi tantangan besar saya sebagai pengajar di abad 21 ini. Saya masih ingat ketika tahun 2015 ketika itu kami guru-guru mendapat pelatihan singkat, iya sangat singkat. Pelatihan Google suite karena email sekolah sudah terafiliasi dengan Google yang beberapa banyak fiturnya bisa digunakan oleh guru dikelas seperti Google doc, Google sheets, Google Slide, Google classroom dan sebagainya. Satu kata WOW luar biasa, pada praktiknya ketika saya mengajar di kelas 5 kala itu. Memang kelas 5 di sekolah saya diwajibkan untuk membawa laptop karena itu tadi murid-murid akan banyak menulis laporan tugas sekolah dengan menggunakan google doc serta membuat presentasi dengan menggunakan Google slide. Momen-momen ini yang membuat ilmu belajar mandiri saya tentang teknologi menemui manfaatnya. Namun ternyata ada juga murid-murid yang belum 100% digital native alias perlu bantuan sang guru untuk penguasaan program ya macam tutorial seringkali saya lakukan di depan kelas guna memastikan mereka betul-betul paham. Ada Lagi cerita tentang orang tua pagi-pagi sengaja datang membuat janji temu dengan saya sebelum mereka pergi ke kantor untuk belajar portal yang disebut dengan Google classroom dikarenakan mereka absen datang ketika sekolah mengundang workshop. Dengan senang hati saya ajak orang tua tersebut ke kelas saya duduk di depan komputer dan saya ajarkan tutorial mengakses Google Classroom. Dengan cara yang mudah dipahami saya dan orang tua tersebut sepakat akan selalu berkomunikasi jika menemukan kendala di rumah. 

Aksi

Lain orang tua lain juga dengan murid memang, murid-murid sangat antusias ketika belajar dengan melibatkan teknologi di ruang kelas, ehhh... tapi membuat suasana belajar di kelas menyenangkan itu bukan datang dari teknologinya saja loh, tapi itu hasil kerja keras guru dalam mempersiapkan materi ajar berminggu-minggu sebelumnya, butuh diskusi panjang untuk merencanakan kegiatan  serta memikirkan media belajar yang sesuai. Dalam memilih dan mencari video pembelajaran misalnya, saya paling sering menggunakan portal youtube untuk mencari video-video pembelajaran dan butuh waktu untuk melihat serta mensortir isi video tersebut apakah layak untuk dimasukan ke rencana pengajaran atau tidak. Murid akan sangat senang memang jika materi ajar disampaikan dan ditambah dengan adanya video tadi karena saya yakin tidak semua murid betah untuk didongengi gurunya tentang Bencana alam, Komunikasi visual, Ekonomi dan lain lain tanpa adanya bantuan teknologi visual. Ketika setiap awal tahun ajaran yang wajib saya lakukan secara berkala yaitu memberikan ceramah pintar tentang penggunaan teknologi di sekolah untuk murid dan orang tua, saya yakin di rumah mereka sudah terbiasa dengan menggunakan komputer, laptop, ipad dan smartphone namun mungkin hanya sebagai fungsi hiburan saja seperti untuk bermain game. Ketika pertemuan awal dengan orang tua, saya selalu sampaikan bahwa diperlukan kerjasama untuk membangun pemahaman yang sama atas penggunaan teknologi di sekolah dan dirumah karena yang dibangun bukan anak ahli dalam mengoperasikan komputer atau laptop namun bagaimana teknologi bisa menengahi untuk guru, orang tua dan murid bisa berinteraksi serta berkolaborasi bersama-sama. Ketika tulisan ini diketik pukul 23.00 malam saya mendapat pesan singkat dari orang tua murid saya hanya untuk memastikan apakah video anaknya sudah masuk dan bekerja dengan baik atau tidak di email saya. Sungguh luar biasa hubungan ini pastinya akan terus saya temui sepanjang hari dan itu harus saya syukuri 

 


 

Class visit orangtua dikelas melihat anak belajar dengan teknologi.

 

Pelajaran

Dalam konteks memanusiakan hubungan melalui teknologi, hubungan antara guru dan guru, guru dan orang tua dan guru dan murid sering kali terjadi. Sebagai contoh guru dan guru lain, saya seringkali diminta bantuan rekan rekan guru lain untuk mengajarkan teknologi aplikasi yang dipakai di kelas atau menjadi asisten pustakawan membawakan materi  teknologi di ruang komputer sekolah yang artinya banyak pelajaran yang positif untuk diri saya pribadi karena kemauan belajar saya akan teknologi yang tinggi namun itu tidak membuat saya jadi serba tahu juga masih banyak area yang kadang jika saya belum tahu maka saya akan menjadikan itu pekerjaan rumah. Email dan pesan Whatsapp dari orang tua yang menanyakan tentang kegiatan iPad di sekolah serta portfolio digital terbaru pun akan terus berdatangan dan saya pun akan dengan senang hati membantu menjawab serta mengajarkan. Saya tidak menyangka jika ternyata teknologi memberikan banyak pelajaran untuk topik ini bagaimana memanusiakan hubungan guru, murid dan orang tua di tengah-tengah perkembangan teknologi pendidikan yang semakin gencar. Tanggung jawab saya mungkin akan selesai jika suatu saat murid-murid saya ketika sebelum mereka menekan tombol “kirim” di sosial media / blog mereka, mereka sudah tahu dan memikirkan bahwa mereka juga bertanggung jawab sebagai Global Citizens.


salam Merdeka Belajar

IG @shinodaari
 

MemanusiakanHubunganGuruMuriddanOrangtuamelaluiTeknologi
Komentar (1)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Ag. Ari Budi Cahyanto, S.Ag.,MM
2 tahun yang lalu

Salam hormat, terima kasih atas inspirasinya. Semoga sukses.